BERATUS JUDUL DI KEPALAKU
“Ah…, setan!”
“Sial!”
Aku
terus menggerutu. Lagi-lagi aku tidak bisa menulisnya, padahal semua seperti
sudah terbaca dalam benakku. Tapi semua hilang seketika, seperti sirnanya
cahaya matahari saat dengan sekelebat awan hitam menutupi tubuh bulatnya, dan
dengan secepat itu juga rentetan bulir air yang jatuh menghujam tanah menghapus
tarian debu-debu di jalanan.
”Yap, dapat!”
Kembali
jariku menari diatas tombol-tombol alfabet yang tidak beraturan letaknya.
Lincah seperti penari Tanggo menghentakkan
kaki mengikuti irama musik. Namun itu hanya sesaat ketika segumpal daging di
tengkorak kepalaku kembali menemukan jalan buntu, gelap dan tak ada apa-apa
disana. Aku kembali terkungkung dalam sebuah ruang berisi ribuan bahkan jutaan
kata-kata yang tak pernah ku mengerti, dan jangankan untuk mengerti, untuk
menyentuhnya pun aku tidak mampu.
Entah
untuk yang keberapa kali aku mengalami kesialan seperti ini, bertubi-tubi. Kenapa
semua hilang begitu saja.
Sejenak
kurebahkan tubuh pada sandaran kursi yang seingatku sudah hampir empat jam aku
melakukan persetubuhan dengannya. Kureguk kopi yang tidak pernah tersentuh sejak aku mulai duduk dan membuka
laptop ku. Ya, laptop yang ku beli dari hasil tabunganku selama enam bulan aku
bekerja. Laptop yang selalu ku nantikan, seperti penantian seorang raja pada
putra mahkotanya yang akan menggantikan kedudukannya kelak jika ia mangkat,
meskipun sang Raja belum tau pasti apakah putra mahkotanya itu akan bisa
membantu bahkan menggantikan tampuk pimpinan kerajaan.
Sama
seperti aku. Laptop yang selama ini ku
harapkan ternyata tidak mampu membantu untuk menunaikan niatku menuliskan
sebuah puisi. Aku sudah berniat akan menulis puisi saat aku punya laptop.
”Kenapa harus menunggu ada laptop, ditulis aja kan
bisa.”
”Ini zaman modern To, zaman teknologi. Penyair
yang sudah terkenal sekalipun sudah atau hampir melupakan teknologi dawat yang
telah membesarkannya.” jawabku ketika Anto, teman seperjuanganku melontar
tanya.
Tapi
entah kenapa. Jangankan sebuah, sebait bahkan sekalimat pun belum mampu aku
tulis. Sempat timbul rasa menyesal telah membeli benda persegi sialan ini. Padahal
aku masih punya mesin tik butut. Sementara uang tabunganku bisa dipergunakan
untuk hal yang lebih bermanfaat. Maklumlah aku hanya karyawan rendahan.
Kembali
kukecup bibir gelas dan menumpahkan sedikit isinya kedalam rongga mulutku,
sambil aku terus berfikir dan menyusun kata agar menjadi kalimat yang indah.
Beratus judul sepertinya tidak perlu kupikirkan lagi untuk sebuah puisi. Memori
otakku sudah menyimpan judul-judul itu di laci yang terpisah dari memori-memori
yang lain. Seperti seorang konglomerat yang menyimpan harta (entah hasil
korupsi atau tidak) di berangkas yang terkunci rapat. Judul-judul yang indah.
Namun kenapa hanya judul yang ku punya, kenapa judul-judul itu tidak bisa ku
kembangkan menjadi sebuah puisi, bahkan untuk sebuah kalimat yang indah pun,
belum!
Berbagai
spekulasi bermunculan di benakku. Kenapa orang-orang bahkan anak kencur pun
bisa menulis puisi, walaupun puisi cinta yang menurut beberapa penyair sangat tidak
masuk akal namun mereka bangga bisa menulisnya dan mengungkapkannya pada sang
kekasih hati. Tapi aku, belum!
”Ah,
akan ku coba lagi”, gumamku dan mulai memperbaiki posisi duduk seperti semula.
Kembali kucoba untuk menuliskan beberapa kata, namun kembali pula aku menemukan
kebuntuan. Aku selalu berhenti dibeberapa kata. Meskipun aku pernah membaca
beberapa puisi penyair besar yang dengan hanya sebuah kata juga sudah merupakan
sebuah kalimat. Tapi mereka penyair hebat yang semua isi dalam puisinya
mengandung makna yang dalam. Itulah kata guruku sewaktu aku masih menginjakkan
kaki di bangku SMA. Sang Guru mengatakan itu setelah mendapat pertanyaan dari
teman sebangku yang mempersoalkan kenapa ada satu kata saja yang menjadi sebuah
kalimat pada puisi.
”Alah,
persetan dengan alasan guru ku”. Gumam yang lagi dan lagi keluar dari mulut
ini. Biarpun itu hanya ku anggap sebuah alasan seorang guru terhadap ketidakmampuan
dalam menjawab sebuah pertanyaan, namun itu tetap sebuah puisi yang hebat
menurutku. Sempat terlintas dalam relung benak ini untuk menuliskan sebuah kata
menjadi sebuah kalimat puisi, namun urung ku lakukan karena aku beranggapan
belum pantas seorang pemula seperti aku tuk melakukannya. Hanya orang-orang
yang sudah terkenal atau terlanjur terkenal di dunia sastra yang boleh
melakukannya. Seperti seorang pelukis yang membuat sebuah lukisan dengan
menggunakan beberapa ekor cacing. Entah apa yang tercipta dari geliat-geliat
binatang tanah itu, namun menjadi sesuatu yang sangat berharga dan mendapat
apresiasi yang sangat istimewa.(Aku pernah membaca berita tentang seorang
pelukis yang membuat sebuah lukisan dari beberapa ekor cacing,aku lupa nama
pelukisnya).
Kenapa
aku tidak bisa seperti seorang penyair yang mengandaikan rumput bisa sembahyang
dalam puisinya Sembahyang Rumputan. Puisi
yang pernah aku baca pada saat aku mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan
saat peringatan Isra’ Mi’raj. Dengan
indah dia mengukir kata-kata seolah-olah rerumputan juga seperti manusia yang
melakukan sujud pada tuhan-Nya. Atau paling tidak seperti sebaris sajak Ebiet G
Ade yang menyuruh kita bertanya pada
rumput yang bergoyang,yang ia lantunkan menjadi sebuah lagu yang dikenang
sepanjang masa.
Hanya
dengan rumput, mereka mampu menguntai
ribuan huruf menjadi kata hingga menjadi mantera yang dapat menyihir para
pembacanya. Seperti seorang pesulap, dengan sedikit kata yang dia ucapkan mampu
menghipnotis penonton yang dipilihnya. Atau puisi Tragedi Kawin dan Kasih yang
berisi kata kata yang serupa berulang-ulang. Atau seperti teks proklamasi yang
dibaca Presiden Indonesia Pertama yang menjadi pemicu gelora kemerdekaan.
Padahal isinya hanya beberapa kata yang ku anggap sebagai sebuah syair karena
semua kalimat berakhiran ”a”. Atau...atau...,ah, aku tidak mau beratau-atau.
Sejenak
kembali ku nikmati serupan kopi yang masih tergeletak di atas meja, berharap
alirannya dapat mencairkan setumpuk daging yang masih beku di kepalaku. Sembari
memutar semua persendian yang agaknya sudah mulai kaku karena sudah hampir lima
jam aku duduk. Sesaat memutarkan sendi leherku, sekejap itu pula seuntai senyum
merekah diwajahku. Kurasakan itulah senyuman termanis dalam hidup bahkan
menurutku mengalahkan senyuman monalisa(yang sampai sekarang aku belum yakin
itu sebuah senyuman) yang sangat terkenal. Mataku menatap sesuatu di tumpukan
buku-buku tua peninggalan masa SMA. Berjuta-juta keindahan terbayang seperti seperti sepasang kekasih
yang telah lama tidak berjumpa dan akhirnya dipertemukan pada saat
ketidakpastian.
Mataku
tertuju pada sebuah buku yang lumayan tebal berwarna merah dan bertuliskan Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Ya,
sebuah kamus yang akan membantuku mencari kata-kata yang cocok untuk membuat
sebuah puisi. Kamus yang dulu pernah menciptakan sejarah dalam perolehan nilai
pelajaran bahasa indonesia saat guru SMA ku memberikan sebuah PR . Sepuluh. Nilai yang sangat
sempurna, merupakan rekor yang tak terpecahkan dan satu-satunya yang tertinggi
dalam seluruh mata pelajaran sejak aku mengecap bangku pendidikan.
Setelah
sekian lama, akhirnya kulepaskan sejenak persetubuhanku dengan tumpukan papan
berkaki empat itu. Secepat kilat kulangkahkan kaki menuju tumpukan kertas dan
menggapai mahkota berwarna merah tersebut. Perasaan senang kembali mengguyur
seluruh tubuh. Berharap inilah saatnya aku kembali menciptakan sejarah dan
rekor baru dalam hidup dengan menuliskan sebuah puisi. Dan dalam sekejap pula
aku kembali melakukan perselingkuhan dengan makhluk aneh berkaki empat itu
kembali.
Kubuka
lembar demi lembar secara perlahan dan kuresapi setiap kata dan makna yang
terkadung didalamnya. Seperti seorang pelacur yang dengan perlahan membuka
setiap kancing kemeja pejabat yang katanya melakukan tugas keluar kota, dan
dengan perlahan pula sang pelacur menghirup dan mereapi setiap jengkal keringat
yang telah bercampur bau asap cerutu.
Hampir
setengah jam aku meresapi setiap huruf yang terpajang pada baris-baris kamus
tersebut. Bahkan ada yang hampir sepuluh kali aku membacanya dan memaknainya.
Namun lagi-lagi sebuah kesialan yang aku dapatkan. Tidak ada yang bisa
kutuangkan menjadi sebuah kalimat. Aku tidak mau menyerah, tidak mungkin
bidadari merah ini tidak membantu, tapi...
”Aaaa...”
teriakanku membahana ke seluruh ruangan. Aku sangat kecewa karena yang
kuharapkan tidak mau membantuku. Bahkan seolah-olah telah bersekutu dan
menentangku. Timbul rasa benci sebenci-bencinya terhadap makhluk merah yang
pernah menawan hatiku. Aku makin muak ketika semua kata yang keluar dari
tubuhnya bukan membantu tapi malah mengejekku dan hampir menyerang dan
membunuhku. Secepat aku meraihnya, secepat itu juga aku mencampakkannya. Akupun
merebahkan kembali badanku ke papan berkaki empat dan berharap pelukannya dapat
menenangkan gundahku.
”Bodah!”
”Siapa?”
”Kau,
bodoh!”
”Siapa...siapa
yang berbicara?”
”Aku,
bodoh!”
”Kau?”
”Ya,
Aku.”
”Tidak
mungkin, mana mungkin kau yang berbicara.”
”Kenapa
tidak mungkin?”
”Karena
kau benda mati.”
”Memang
dasar bodoh. Aku memang benda mati, tapi kau telah menghidupkanku”.
”Bagaimana
bisa?”
”Karena
kau telah menjadikanku bidadari merahmu selama ini.”
”Tidak
mungkin,kau hanya sebuah kamus. Dan kamus tidak bisa bicara”.
”Selama
ini kau terlalu memujaku, hingga aku hidup dalam jiwamu. Kalau hanya untuk bicara,
aku lebih pintar darimu karena semua kata ada dalam tubuhku.”
”Tidak!”
”Kenapa
tidak, kenyataanya memang seperti itu. Kau terlalu bodoh untuk menyusun sebuah
kalimat. Kau terlalu bodoh untuk membuat secuil puisi.”
”Tidak...tidak...”
”Ya,
kau terlalu memaksakan dirimu untuk menciptakan yang sempurna, hingga semua
yang keluar dari otakmu salah. Kau tidak percaya diri. Andai kau menuliskannya
saja, dan tidak terkekang oleh stigma-stigma yang mengikat, kau sudah bisa
membuat puisi. Karena secara substantif, sebuah puisi tidak ada yang salah,
hanya tergantung kita dan orang yang membacanya menafsirkan.”
”Tidak...tidak...tidak...”
”Ya,
kau telah melupakan kesederhanaan. Bukankah seorang penyair yang terkenal juga
memulai dengan sebuah tulisan yang sederhana dan tidak berharap menjadi
sempurna. Tapi kau, terlalu berharap akan kesempurnaan.”
”Tidak...tidak...tidak...tidaaaak...”
Aku
terjaga dari mimpi yang merongrongku. Ah..., lima belas menit yang menyiksa.
Seakan ingin mendakwaku terhadap kesalahan yang aku sendiri tidak tau pasti apa
aku bersalah atau tidak. Seperti seorang yang dipaksa mengaku melakukan
kejahatan yang dia tidak pernah lakukan. Seperti yang kusaksikan di televisi
beberapa waktu lalu. Tapi tunggu...ya...ya...ya...
Bergelayut pada hati yang rapuh
Mencengkeram kuat, bergoyang pada
kenistaan
Retak, patah, jatuh ketanah, lebur
menjadi abu
Sirna tak berbekas
”Yuhui..” . Aku bersorak dipagi buta.
Akhirnya aku bisa menuliskan sebait puisi. Ya, walau hanya sebait, aku puas.
Puas sepuas-puasnya. Tapi tunggu, puisiku belum berjudul. Sebuah perkara yang
mudah kurasa. Aku punya ratusan judul di kepalaku, yang memang telah ku
letakkan di laci yang terpisah dari memori-memori yang lain. Setelah
memilah-milah untuk beberapa lama, aku tidak juga menemukan judul yang pas
untuk sebait puisiku ini. Bahkan segumpal daging di tengkorak kepalaku kembali
menemukan jalan buntu, gelap dan tak ada apa-apa disana.
”Sial,sial,Setan!”




0 komentar:
Posting Komentar