BERATUS JUDUL DI KEPALAKU
“Ah…, setan!”
“Sial!”
Aku
terus menggerutu. Lagi-lagi aku tidak bisa menulisnya, padahal semua seperti
sudah terbaca dalam benakku. Tapi semua hilang seketika, seperti sirnanya
cahaya matahari saat dengan sekelebat awan hitam menutupi tubuh bulatnya, dan
dengan secepat itu juga rentetan bulir air yang jatuh menghujam tanah menghapus
tarian debu-debu di jalanan.
”Yap, dapat!”
Kembali
jariku menari diatas tombol-tombol alfabet yang tidak beraturan letaknya.
Lincah seperti penari Tanggo menghentakkan
kaki mengikuti irama musik. Namun itu hanya sesaat ketika segumpal daging di
tengkorak kepalaku kembali menemukan jalan buntu, gelap dan tak ada apa-apa
disana. Aku kembali terkungkung dalam sebuah ruang berisi ribuan bahkan jutaan
kata-kata yang tak pernah ku mengerti, dan jangankan untuk mengerti, untuk
menyentuhnya pun aku tidak mampu.
”Sial, sial, sial!”




